Penyu adalah satwa yang tetap bertahan hidup semenjak 100 juta tahun yang lalu pada jaman cretaceous dan tetap lestari hingga sekarang. Namun dalam 50 tahun terakhir ini populasi penyu di alam terus menurun dengan drastis dan di khawatirkan akan punah jika tidak ada upaya untuk melestarikannya. Pertumbuhan penyu sangatlah lambat, mereka berusia dewasa untuk kawin dn bertelur rata-rata pada umur 30 tahun. Musuh alami penyu sangatlah banyak. Ketika mereka bertelur di pantai, sering kali telur-telur tersebut menjadi santapan anjing, babi dan juga manusia. Di laut anak penyu yang disebut Tukik, juga menghadapi ancaman dari pemangsa seperti ikan-ikan besar, kepiting, dan burung. Menurut penelitian para ahli bahwa dari 1.000 ekor tukik, hanya 1 ekor tukik yang mampubertahan hidup hingga dewasa! Wheww…
Selain musuh alami, kini ancaman utama bagi kelangsungan hidup penyu adalah kegiatan manusia. Pantai-pantai yang semula menjadi tempat bertelurnya penyu, kini berubah menjadi hotel, restauran dan kawasan wisata, hal ini di perparah dengan masih tingginya perdagangan penyu dan bagian-bagiannya di beberapa daerah seperti Bali, Jawa Barat, Kalimantan, dan Sulawesi. Di Bali penyu hijau diperdagangkan terutama untuk diambil dagingnya, setiap tahunnya ada ribuan penyu didatangkan untuk diperdagangkan ke Bali. Penyu-penyu tersebut didatangkan dari Pulau Aru, Kalimantan, Flores, Madura dan Jawa. Bagian tubuh penyu lainnya seperti karapas penyu sisik banyak digunakan sebagai bahan cindramata, demikian juga telur penyu juga banyak diperdagangkan untuk di konsumsi.
Khawatir kendaraan Anda kehabisan bahan bakar ketika berwisata ke ujung genteng?
Sekarang Anda tidak perlu kahwatir lagi, karena pada tanggal 9 Maret 2009 kemarin sudah diresmikan Stasiun pengisian bahan bakar baru di kampung Cimaja sekitar 500 meter setelah terminal surade yang beroperasi 2 x 24 jam sehari.
Sebelumnya di surade juga sudah ada SPBU yang juga beroperasi 2x24 jam di kampung Cibarehong sekitar 2 km sebelum terminal surade.
15 Reads
Ujung Genteng - Nirwana Pantai Selatan
Ujung Genteng merupakan daerah pesisir pantai selatan Jawa Barat yang terletak di desa Gunung Batu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi dengan jarak tempuh sekitar 220 kilometer dari Ibu Kota Jakarta atau 230 kilometer dari Kota Bandung. Waktu tempuhnya sekitar enam atau tujuh jam perjalanan bermobil. Selain jalannya cukup mulus juga terdapat beberapa jalur alternatif serta sarana angkutan umum yang memadai menuju tempat tujuan.
Pantai Ujung Genteng memiliki karakteristik umumnya pantai selatan Pulau Jawa yang terkenal bersih airnya dan ombaknya yang besar. Walaupun demikian, pantai ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan pantai Pelabuhan Ratu yang terkenal rawan dan sering merenggut korban jiwa karena ombaknya yang ganas. Walaupun pantai Ujung Genteng menghadap bebas ke Samudera Hindia, namun ombaknya yang besar tak membahayakan pelancong yang gemar bermain-main di laut.
Ombak besar dari tengah samudera lebih dulu pecah berserak lantaran terhalang gugusan karang laut di depan bibir pantai, sehingga kita dapat menikmati alam dengan pantai yang indah, aman, dan nyaman. Anak-anak boleh berenang di laut sepuasnya dan memungkinkan memandang sekumpulan ikan berwarna-warni di sela-sela batu karang, menandakan betapa alaminya lingkungan Ujung Genteng.
Di daerah Ujung Genteng sendiri terdapat banyak tempat menarik, seperti melihat langsung penyu hijau (Chelonia Mydas) di pantai Pangumbahan. Ada juga lokasi di mana Anda bisa berselancar di atas ombak yang cukup menantang yang terkenal dengan sebutan ”ombak tujuh”. Lokasi ini merupakan kawasan favorit bagi wisatawan mancanegara untuk olahraga selancar. Sebutan ombak tujuh menurut penduduk karena ombaknya selalu berurutan tujuh ombak dan selalu besar-besar. Untuk yang suka memancing, di Ujung Genteng merupakan tempat yang cocok di mana ikannya cukup banyak dan bervariasi.
Disamping objek wisata alam, Ujunggenteng juga memiliki objek wisata dalam bentuk proses pembuatan gula kelapa oleh masyarakat setempat. Pembuatannya sederhana sekali yakni dengan memanfaatkan perkebunan kelapa luas, para penduduk memasang bokor untuk menampung cairan dari kembang kelapa lalu di kumpulkan dan dimasak dikuali lalu dicetak dengan potongan bambu yang ukurannya lebih besar dari ukuran gula kelapa yang ada di pasaran.